Daerah

Gerakan Pakai Masker Digaungkan, Destinasi Wisata Banyuwangi Kebanjiran Pengunjung

BANYUWANGI – Gerakan Pakai Masker (GPM) yang diluncurkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) berpengaruh positif pada kebangkitan destinasi wisata di Indonesia yang terdampak pandemi Covid-19. Salah satunya seperti yang terjadi di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Sejumlah destinasi wisata di Bumi Blambangan yang kini telah bergeliat lagi langsung kebanjiran wisatawan.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menjelaskan, kebangkitan pariwisata Banyuwangi meski di masa pandemi tak lepas dari supervisi Kemenparekraf dan arahan dari Kemendagri. “Banyuwangi kemudian bisa bangkit secara bertahap. Long weekend atau wekeend okupansi hotel kami naik 90 persen. Bahkan sudah beberapa hotel penuh dalam beberapa minggu terakhir ini. Okupansi hotel yang naik juga dibarengi peningkatan kunjungan wisatawan di obyek-obyek wisata Kabupaten Banyuwangi,” kata Azwar Anas di sela peluncuran Gerakan Pakai Masker (GPM) dan Gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA) di Pulau Pantai Santen, Sabtu (5/9/2020).

Menurutnya, wisatawan lokal dan berbagai daerah di Indonesia banyak yang datang ke Banyuwangi untuk menikmati destinasi wisata. Tentu saja Banyuwangi memiliki banyak tempat-tempat destinasi wisata. Antara lain Kawah Ijen, Bangsring Underwater, Grand Watu dodol, Pantai Cacalan, Pantai Pulau Merah, Taman Nasional Alas Purwo dan sejumlah destinasi wisata lainnya.

“Di saat pandemi ini tentu yang dijual sekali lagi adalah SOP dan protokol kesehatan. Pemerintah daerah sangat berterimakasih sekali kepada Kemenparekraf, Kemendagri, Kemenko Marves yang telah merekomendasikan dari sekian lama tidak ada perjalanan dinas pemerintah, Kementerian dan lembaga, akhirnya Banyuwangi dipilih menjadi salah satu pilihan rekomendasi untuk rapat,” katanya.

“Ini adalah apresiasi bagi kami. Tentu tidak ada pilihan lain dari pemerintah daerah. Terima kasih juga atas arahan Ibu Gubernur dan berbagai pihak yang mendorong daerah agar terus bisa tumbuh dan berkembang,” tambah Azwar Anas.

Pada kesempatan itu, Azwar Anas menegaskan jika  pelaku wisata adalah ujung tombak bagi pengembangan pariwisata di Banyuwangi. “Harapan ke depan pariwisata ini memberikan ruang yang seluas-luasnya bagi masyarakat. Ketika tidak ada impact yang cepat bagi masyarakat, tentu ini akan sangat merugikan kita semua. Hari ini di Banyuwangi outdoor tourism dikembangkan dan ternyata banyak orang kota mencintai dan menyukai outdoor tourism. Maka kampung-kampung yang bersih, desa-desa wisata yang indah saya kira ke depan akan menjadi harapan baru bagi destinasi baru di Indonesia,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, Kemenparekraf/Baparekraf mendeklarasikan gerakan Bersih, Indah, Sehat dan Aman (BISA) di tiga wilayah di Jawa Timur, salah satunya Banyuwangi. Selain gerakan BISA, Kemenparekraf/Baparekraf juga menginisiasi Gerakan Pakai Masker (GPM).

Bukan tanpa alasan kegiatan tersebut dihelat. Deputi Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Kurleni Ukar mengatakan, kegiatan ini diisisiasi untuk mendorong pemulihan industri pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19. Selain itu, gerakan ini juga digagas sebagai landasan bagi masyarakat untuk berwisata di tengah kehidupan normal baru.

“Program GPM merupakan kebijakan Kemenparekraf untuk mendukung protokol kesehatan di destinasi wisata. Untuk keamanan dan kenyamanan kita bersama, gerakan ini diluncurkan,” kata Kurleni Ukar.

Gerakan BISA dan GPM, ia melanjutkan, merupakan upaya untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap destinasi wisata di tengah pandemi Covid-19. Tujuannya untuk menggairahkan pariwisata dengan pola baru bagi masyarakat yang sedang berlibur. Ia berharap sinergi gerakan BISA dan GPM mampu membangkitkan geliat industri pariwisata di daerah. “Program ini untuk mengakselerasi industri pariwisata dan ekonomi kreatif,” katanya.

Ia optimistis gerakan ini menjadi tameng penularan Covid-19 sepanjang diterapkan dengan disiplin. Ia mengajak para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif menerapkan secara sungguh-sungguh protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah. Gerakan ini juga menjadi penanda dibukanya kembali destinadi wisata secara bertahap pada era adaptasi kebiasaan baru.

“Kegiatan ini merupakan momentum kesiapan industri pariwisata dan masyarakat untuk melaksanakan secara konsisten protokol kesehatan di destinasi wisata,” ucap Kurleni Ukar.

Saat ini, pihaknya bekerjasama dengan Komunitas Gerakan Pakai Masker untuk memasifkan sosialisasi penggunaan pakai masker bagi masyarakat dan pelaku usaha pariwisata di destinasi wisata sebagai sebuah budaya dan perilaku baru insan pariwisata Indonesia.

Direktur Pengendalian Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf, Hasan Abud mengajak pemangku kepentingan yang hadir untuk bersama-sama mengendalikan penularan Covid-19. Pada saat yang sama, ia meminta kepada stakeholder pariwisata untuk membangun destinasi wisatanya sesuai standar protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Pengelola destinasi, pemangku kepentingan dan masyarakat diharapkan selalu menjalankan 3M yakni menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan sebagai kebiasaan baru dan wajib dijalankan.

Dengan begitu, wisatawan akan merasa aman dan terlindungi ketika melakukan perjalanan wisata ke suatu destinasi. “Health and hygiene serta safety and security merupakan dua faktor penilaian dalam Travel and Tourism Competitiveness Index akan menjadi prioritas utama bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Penerapan protokol kesehatan tak hanya untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, namun harus terus diglakkan oleh stakeholder pariwisata, sehingga sektor pariwisata dapat tetap produktif dan aman,” harapnya.

“Diharapkan penerapan protokol kesehatan secara disiplin dengan penuh kesadaran serta kesiapan destinasi di era new normal dapat meningkatkan kualitas daya saing pariwisata Indonesia dan mengembalikan kepercayaan wisatawan sehingga dapat menghidupkan kembali sektor pariwisata,” tambahnya.

Hasan melanjutkan, Gerakan BISA dan Gerakan Pakai Masker bertujuan untuk memberikan kesadaran kepada masyarakat sekaligus mempersiapkan destinasi wisata untuk kembali beraktivitas. “Kita tak tahu kapan Covid-19 ini berakhir. Kita berharap ketika Covid-19 sudah berakhir, maka daerah-daerah destinasi wisata sudah bersih, sehat dan aman. Kegiatan ini juga berupaya memberikan edukasi kepada masyarakat tentang protokol kesehatan,” papar dia.

Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk tertib menerapkan protokol kesehatan belum sepenuhnya disiplin. “Diharapkan dengan adanya kegiatan ini, di samping memberikan bantuan kepada desa wisata dan pelaku ekonomi kreatif, juga mengedukasi kepada masyarakat pentingnya menggunakan masker,” katanya.

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close