Megapolitan

Mengulas Sejarah Pintu Air 10 Cisadane Tangerang

Bendungan Bersejarah Sejak Jaman Belanda

PEMBARUANNEWS.CO – Bendungan Pasar Baru atau biasa disebut oleh masyarakat Tangerang dengan Pintu Air 10 Cisadane. Dibangun pada tahun 1927, selesai dan diresmikan tahun 1930.

Selain menjadi pengendali air kiriman dari kota Bogor, bangunan bersejarah tersebut difungsikan untuk mengairi areal persawahan seluas 40.663 Hektar.

Bangunan yang terletak di jalan K.S. Tubun, Kelurahan Koang Jaya, Kecamatan Karawaci, Kota Tangerang, Provinsi Banten ini saat zaman penjajahan kolonial memiliki peranan yang penting. Antara lain sebagai sumber air bagi irigasi warga dan pengendali volume air yang akan bermuara ke lauy di wilayah Kabupaten Tangerang.

Bendungan Pasar Baru dibangun pada tahun 1927, selesai dan diresmikan tahun 1930. Keperluan dibangunnya bendungan adalah untuk mengairi areal persawahan seluas 40.663 Hektar.

Bendungan ini awalnya bernama Bendungan Sangego, kemudian berubah menjadi Bendungan Pintu Sepuluh atau Bendungan Pasar Baru. Perubahan pada bendungan ini tidak terlalu banyak karena terlihat dari peralatan dan mesin yang digunakan sudah tua.

Bendungan Pasar Baru memiliki fungsi untuk mengatur aliran air di sungai Cisadane. Bendungan ini mempunyai 10 pintu air dari besi dan 11 tiang penopang. Konstruksi bendungan terbuat dari beton bertulang.

Pada sisi utara dan selatan bangunan terdapat rel lori yang digunakan untuk mendistribusikan pintu air pengganti jika ada pintu air yang rusak. Bendungan memanjang dari timur ke barat dengan panjang 125 m dengan rincian 10 jumlah pintu air, lebar pintu 10 m, 3 intake, 2 pintu penguras lumpur, tinggi pintu bawah 5 m, tinggi pintu atas 3 m, dan berat pintu masing-masing 25 ton.

Bangunannya memiliki dua tingkat. Penghubung ke lantai atas menggunakan tangga yang berada di ujung timur dan barat bangunan. Bagian ujung barat dan timur bangunan menggunakan tegel berwarna abu-abu, bercorak kotak-kotak dan berukuran 20 x 20 cm. Pada lantai dua terdapat 5 ruang yang berisi penggerak pintu air. Alat-alat yang digunakan pada bendungan ini sudah cukup mengkhawatirkan sehingga perlu dilakukan perbaikan.

Pintu masuk bendungan
Di sebelah barat bendungan terdapat bangunan berdenah persegi, dengan pintu berupa rolling door dari besi. Bangunan tersebut digunakan untuk menyimpan lori dan difungsikan sebagai gudang. Lori digunakan untuk membawa pintu air pengganti dan gudang. Keadaan bangunan tersebut dalam keadaan cukup terawat, dan lori masih bisa digunakan hingga sekarang.

Perbaikan tambal sulam pun kerap dilakukan agar bangunan cagar budaya ini tetap berdiri kokoh. Saat ini, pengelolaan bendungan tersebut menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum.

Dan menurut data yang dihimpun dari antara, rehabilitasi bendungan tersebut terakhir dilakukan pada 2019 lalu dengan menelan dan sebanyak Rp 90 miliar. Selain itu, bendungan yang berada di lintasan Sungai Cisadane ini juga menjadi sumber air baku bagi wilayah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan.

Selain itu, bangunan tersebut juga dimanfaatkan Pemprov Banten untuk menambah Pendapatan Asli Daerah (PAD). Yaitu dengan mengambil pajak dari penggunaan sumber air baku yang bersumber dari Sungai Cisadane. [Sam]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button