Nasional

Kementan Wujudkan Diversifikasi Pangan Lokal Lewat Olahan Talas Balitung

JAKARTA – Indonesia  kaya sumber daya alam dan mempunyai potensi untuk memproduksi bahan pangan alternatif yang bergizi dan memiliki nilai ekonomi. Untuk itu, Kementerian Pertanian terus menggenjot produksi diversifikasi pangan lokal untuk menjaga ketersediaan pangan. 

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mengatakan, dengan teknologi pascapanen, konsumen bisa menerima berbagai produk olahan dari pangan lokal seperti sagu, aneka umbi, aneka sereal non padi yang banyak tersebar di pulau-pulau yang ada di Indonesia.

“Penguatan ketahanan pangan lokal masih memerlukan berbagai dukungan inovasi teknologi pascapanen,” ujar Mentan.

Selanjutnya Mentan berharap teknologi pascapanen mengikuti perkembangan teknologi terkini sehingga menghasilkan pertanian yang makin maju, mandiri dan modern. 

Menurutnya, diversifikasi pangan lokal diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan dan gizi mulai dari tingkat individu hingga tingkat negara.

Diversifikasi Pangan Lokal juga dibahas dalam Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) volume 22, bertema kostratani sebagai pusat agribisnis, Jumat (17/06/2022) di AOR BPPSDMP Jakarta. 

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi, yang hadir secara virtual mengatakan untuk menghindari akibat dari krisis pangan global maka para petani dan pemerhati pertanian harus terus  mengenjot tanam pangan lokal untuk meningkatkan produktivitas.

“Ayo beralih ke pangan lokal, ganti gandum dengan singkong ganti jeruk mandarin dengan jeruk lokal, karena ini yang dapat menyelamatkan pangan lokal,” jelas Dedi.

Hal ini sejalan dengan dengan salah satu fungsi kostratani sebagai pusat konsultasi agribisnis. 

Dedi berharap pangan lokal dan produk turunannya untuk kehidupan sehari-hari karena dapat membantu para petani dan keluarganya sejahtera.

Narasumber MSPP, Boyke Sukarya, petani dan pengusaha milenial tepung talas beserta turunannya, menjelaskan bahwa tanaman Balitung (Xanthosoma sagittifolium) merupakan makanan pokok alternatif di berbagai belahan dunia/tropis dan daerah di Indonesia. 

Termasuk juga salah satu komoditas sebagai sumber karbohidrat yang sampai sekarang masih belum mendapat perhatian baik dalam pembudidayaan dan industri. 

Balitung merupakan tumbuhan herba dengan batang bagian bawah yang membentuk cabang di bawah tanah yaitu cormel atau sprout. Daur hidup berlangsung dalam 11 bulan.

“Bobot dari Balitung yang dapat digunakan adalah 80% per 100 gram serta menghasilkan energi sebesar 145 Kal,” jelas Boyke. 

Kandungan gula dan lemaknya yang cukup rendah membuat Balitung cocok dikonsumsi oleh pasien dengan diabetes, jantung osteoporosis dan hipertensi. Balitung juga baik untuk kesehatan gigi karena memiliki sifat basa sehingga tidak merusak gigi. 

“Balitung merupakan sumber karbohidrat  tepung dan pati diolah menjadi starchips untuk snacks, Roti dan cake, perkedel, campuran bubur serta olahan kuliner lainnya,” tutup Boyke. (hvy)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button